Wednesday, July 6, 2011

Luka :') part2

Hari-hari ku lewati dengan berbagai rintangan yang menantang namun tetap kujalani dengan senyuman serta semangat yang tertanam dalam jiwaku ,karena itu adalah kunci keberhasilanku suatu saat nanti. Hingga suatu hari aku berjalan melewati pinggiran kota,terus berjalan dan berjalan sampai menembus ujung kota,negara sampai ujung dunia, namun aku kecewa karena aku tak sampai untuk meraih ujung dunia itu. Kemudian aku berhenti di suatu tempat dimana tempat itu banyak di kunjungi para wisatawan yang datang sehingga banyak pedangang yang berduyun-duyun ketempat itu untuk bekerja mendapatkan uang,hasilnya hanya sedikit uang yang di gunakan membeli sesuap nasi untuk mengisi perut dan keluarganya. Berjalan dan terus berjalan , aku menemukan satu tempat kosong yang berada di tengah-tengah kerumunan orang –orang yang sibuk memotret dirinya,pengamen,pedangang dan sebagainya. Ku duduki tempat yang kosong itu ,tak sengaja aku membuka buku diaryku yang bewarna biru itu , lembar demi lembar kubaca dengan senyum simpul mengingatnya ,tetapi ketika kubuka lembaran yang ke seratus ,aku mulai mengamati tulisan itu dengan seksama,dengan judul pertemuan singkat,

Pertemuan Singkat (10-04-11/26-06-11)

Ya awalnya aku tak mengenalmu bahkan tak pernah berfikir bahwa akan bertemu dan mengenalmu lebih jauh, dan mungkin sebaliknya denganmu. Namun takdir berkata lain kita dipertemukan dengan suatu kejadian yang membuatku tersenyum hanya untuk sementara.

Malam itu malam kamis, ya masih jelas dalam ingatanku bahwa malam itu malam kamis ,malam yang mempertemukan kita untuk pertama kalinya.

Aku dan sahabatku nanda duduk di depan rumahnya untuk menikmati indahnya malam kota jogja sembari melihat lalu lalang kendaraan yang melintas depan rumahnya,

Krinng...tiba-tiba dering handphone nanda berbunyi, “ siapa nand yang nelfon” tanyaku sambil menyela pembicaraan nya

“ni Habib kok cil,hhe”jawabnya sambil memberikan ku senyum tipis , “jelas habib yang telfon”batinku. Habib cowo yang mungkin bisa dibilang sabar buat ngadepin ego cewenya si nanda, hhe. Aku duduk di sampingnya sembari berharap ada seseorang yang mengirim pesan padaku, seseorang yang spesial untukku pada saat itu, namun pesan itu tak kunjung datang.

“heh ,cil habib ni mau ngomong ama kamu,katanya penting!” kata nanda ,yang membuyarkan lamunan ku itu.

“Ya bib,ada apa kok tumben nyari aku?” jawabku

“Uhm,, bisa ketemu bentar ga cil?penting ni!” kata habib dengan nada mengharap

“Lah ini kan udah malem?”tanyaku padanya

“Udahlah,kamu pokoknya kesini yya?tak tunggu di tempat biasanya!sekarang!”gertaknya padaku

“oke” jawabku santai

Aku dan nanda menuju ke tempat itu dengan cepat, kira-kira lima belas menit kita sampai tujuan, tapi disana bukan hanya ada habib melainkan banyak orang yang tak ku kenal. Tanda tanya yang besar terlintas di benakku,”ada apa ini?apa yang mereka lakukan disini ?”tanyaku bingung dalam hati. Lamunanku terbuyar ketika nanda tidak mengikutiku untuk duduk namun menghampiri dua sosok lelaki yang berada di sebrang jalan, pertanyaan lagi-lagi muncul dalam fikiranku,” apa yang akan terjadi malam ini?”batinku.

“heh bib, mau apa aku di ajak kesini?”tanyaku kesal

“udahlah,ntar kamu juga tau sendiri og chil” jawabnya cuek sambil menghampiri pacarnya

“yayaya” jawabku kesal sambil meninggalkan habib dan mencari tempat duduk

Tak lama aku menunggu prebincangan mereka dengan orang-orang yang tak kukenal yang ternyata orang-orang asing itu teman-teman seperjuanganku yang belum ku kenal.

Lima orang asing itu datang menghampiriku dengan pasang wajah yang menyeramkan,dan menggertakku,

“heh! Kamu lucil ya?” tanya seorang cowo yang muncul tiba-tiba di depanku

“iya?kamu siapa?” tanyaku polos

“yang ngatain kalo SEMUA COWO BRENGSEK!HA?” jawab nya dan teman”nya

“iya,tapi urusan kalian apa?” tanyaku

“kita juga cowo kali,ya kita ga terima lah!” gertak mereka serentak

“ah, aku ga kenal ma kalian!” gertakku balik

“yaudah makanya kenalan!” celetuk salah satu dari mereka

“yayya ,kenalan!” jawabku cuek

Akupun mengulurkan tangan pada mereka, tapi mereka tak menyambut jabatan tanganku dengan baik ,bahkan membalasnya dengan kasar. Bukan hanya bersalaman saja ,tapi kelakuan mereka padaku kasar , di marahi,di marahi ,dan terus di marahi. Hingga satu jam kemudian mereka pergy satu persatu meninggalkanku.

Dan aku mendapatkan lima teman baru lagi, “yeyeyeye asik” teriakku dalam hati. Mereka anak-anak yang aneh ,lucu tapi baik. Ya fajar, dimas, nanda,habib, dan luqman.

Byurr,, air mengguyurku dari arah samping , dan ternyata “arghh!”teriakku,

“ maksutnya apa ?gebyur air sembarangan!” gertakku

“hha ,kan kamu ultah cil, selamat ulang tahun yya” jawab mereka sambil tertawa

“hha,selamat ulang tahun cil, maaf ya sebelumnya ngerjainya sekarang coz kita besok pada pulang kerumah sih,pada mau ngapelin cewek-ceweknya” kata habib sambil menyalamiku.

Satu persatu dari mereka menyalamiku bergantian, dan malam itu malam yang mengejutkan bagiku dan malam yang indah. Terimakasih kawan

Sepuluh april ,

Andai aku tak melewati sepuluh april, takkan ada kejadian seperti ini. Di kala aku mengenalmu hanya sebentar dan belum begitu mengerti akan sifat aslimu, aku tau kamu sosok lelaki yang baik, tanggung jawab,kerja keras, dan berpendirian keras. Aku memang bimbang hari itu ,dimana kamu menyatakan perasaan padaku dan memaksaku menjawab waktu itu juga. Aku salah atas jawaban itu karena ku tak mengenalmu lebih jauh dan aku tak akan menyesal seperti sekarang. Tapi apalah arti menyesal dan berandai-andai ,ibarat nasi telah menjadi bubur ,tak ada lagi yang bisa di perbaiki, semuanya telah berakhir dan berakhir.

Sore sepulang sekolah ,aku pergi dengan sepeda motorku yang apa adanya ,ku nikmati lalu lalang yang berusaha menyelip motorku ini dan sampai akhirnya setelah lima belas menit aku menemukan suatu tempat bewarna putih, dimana di tempat itulah sedih senang ku lewati. Tempat yang konon dahulu sebuah benteng pertahanan bangsa Indonesia untuk melawan Belanda, tempat itu masih berdiri kokoh tapi tempat itu sudah kotor, tidak ada yang mengurusnya. Banyak coretan-coretan anak-anak nakal dengan menggambarinya dengan kata-kata yang tak layak untuk di tulis di depan umum.

No comments:

Post a Comment